Jakarta Repose Project #5

Abraham, pegawai di salah satu Law Firm didaerah Sudirman, Jakarta Selatan. Ia memiliki jadwal kantor yang padat sehingga pada weekend juga belum tentu bisa mendapatkan waktu luang.

Menurutnya, waktu luang bagi dirinya sebagai orang kantoran hanya bisa diisi dengan berkunjung ke coffee shop yang berada di daerah Jakarta Selatan saja. Karena waktu yang sangat minim yang dimiliki oleh Abraham dan teman-temannya.

Ia mengaku bekerja mulai pukul 09.00 pagi hingga 08.00 malam setiap harinya, dan tidak jarang pula ia baru keluar kantor diatas jam 11.00 malam. Dari sini, waktu luang yang ia miliki hanyalah pada saat weekend. Dan ia selalu menggunakan waktu tersebut untuk berkumpul bersama teman-temannya yang bisa dibilang banyak dan dari berbagai kalangan. 

Ambraham juga mengaku jika tidak terlalu lelah, ia akan berkunjung ke Bandung untuk bertemu temannya. Ia memilih Bandung karena disana-lah ia bisa mendapatkan suasana yang berbeda dari apa yang sudah ia dapatkan di Jakarta. Dan Abraham mengaku di Jakarta belum ada tempat yang bisa membuat dirina lupa bahwa ia sedang berada di Jakarta. Bandung sendiri menjadi pilihannya karena ia dulu berkuliah di kota Bandung, tepatnya di Unpad jurusan Hukum.

Ketika ditanyakan apakah ada rasa penyesalan terhadap jam kerja, menurutnya ini adalah suatu hal yang wajar bagi perusahaan law firm. Dan dari situ ia menikmatinya, bukan menyesalinya. Menurut Abraham, Jakarta membutuhkan tempat yang terkesan hijau, dan didukung dengan fasilitas serta keamaan yang bagus.

Pengalaman buruk setiap berlibur di Indonesia bagi Abharam selalu sama, yaitu dari segi fasilitas dan keamanan. Fasilitas seperti transportasi umum, jalan menuju ke tempat tersebut, kamar kecil dari tempat tersebut, dan juga tempat menginap dari tempat tersebut selalu dinilai masih sangat minim oleh Abraham. Walaupun sebenarnya menurutnya fasilitas itu adalah hal terpenting dari suatu tempat rekreasi/wisata.

Menurutnya, tempat yang berpotensi di Jakarta adalah Kota Tua, karena disana masih menawarkan suasana yang berbeda. Abraham mengatakan "Kota Tua tu kayak lo masuk ke.. Dunia lain aja gitu". Abraham juga mengatakan bahwa Jakarta terlalu banyak piihan dan pilihan tersebut tersebar dijarak yang bisa dibilang tidak dekat.