Jakarta Repose Project #2

Tyowanto, 44 Tahun. Penjual keliling Susu Murni Nasional

Tyowanto, seorang bapak rumah tangga yang sudah memiliki 3 orang anak di usianya yang menginjak 44 tahun ini berprofesi sebagai Penjual Keliling Susu Murni Nasional di daerah Mahakam, Jakarta Selatan. Beliau sudah menekuni pekerjaan ini selama 14 Tahun, dan memiliki tempat tinggal di Mess yang berada di Jl. Ketimun. Keluarga dari Tyo berada di Jawa Tengah.

Selain bekerja sebagai penjual keliling Susu Murni Nasional, Tyo juga menjadi freelance sebagai Koki di Graha Pondok Pinang. Pekerjaannya sebagai koki adalah ketika ada panggilan untuk masak di acara kawinan. Waktu luang yang ia miliki adalah pukul 19:00 sampai dengan 09:00. Ia menggunakan waktu luangnya untuk istirahat di Mess dan terkadang menghabiskannya dengan bersilaturahmi ke tempat teman-teman yang ia miliki.

Setiap 1 Tahun sekali, Tyo mengaku memiliki acara rutin bersama sesama pedangan untuk berlibur ke beberapa tempat di Jakarta dan sekitarnya. Contohnya adalah Anyer dan juga Ragunan. 1 kali liburan diakui bisa mencapai 60 orang yang terlibat didalamnya. Liburan ini ditujukan untuk memper-erat silaturahmi sesama pedangang. Liburan ini juga ditujukan untuk memberikan pengalam baru bagi-nya, ia mengatakan bahwa "Pengalaman itulah yang paling utama didalam kehidupan, intinya disitu".

Tyo mengaku memiliki kekecewaan tiap saat berkunjung ke tempat wisata. Salah satunya adalah pegawai dari tempat wisata yang tidak profesional terhadap pekerjaannya. Tyo mengatakan bahwa "jadi main ketok gitu aja, misalkan harga parkir. Mau ga sekian ratus ato sekian ribu, kebiasaan parkir disini kan 2,000 udah biasa". Hal lainnya adalah harga makanan di tempat wisata yang selalu melebihi harga normal dari biasanya. Walaupun ia memaklumi hal tersebut, namun ia tetap kecewa. Tyo menyatakan "Besar kecilnya rezeki kan udah ada yang ngatur, walaupun kecil kalo habisnya banyak ya Insya'Allah berkah. Banyak, cuman sekali, besoknya ga ada kan sama aja". Tyo juga menyatakan kekecewaan terhadap tidak ada kesadaraan dari setiap pihak dari tempat wisata mengenai pemberian harga yang ditetapkan. Seperti yang ia katakan "Suatu saat dia juga pasti akan pergi kemana-mana, gimana perasaannya kalo di ketok juga, pasti kan akan marah juga.. Emosi. Itu hanya berdasarkan pake perasaan aja sih".

Dibalik kekecewaan dari tiap kunjungan yang dilakukan, Tyo tetap bersyukur karena bisa menikmati ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dari kekecewaan itu juga ia selalu mengambil hal yang positif saja, dan meninggalkan hal yang negatif untuk tidak dikembangkan.

Tyo mengaku lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berkunjung ke tempat lain di bandingkan ke Mall yang ada di Jakarta. Ia mengaku berkunjung ke Mall hanya untuk melihat apa saja yang sedang terjadi (trend) dan untuk menambahkan harapan yang ada didalam dirinya untuk berkembang dan menjadi lebih giat lagi bekerja.

Ketika ditanyakan mengenai apa saja kekurangan dari Jakarta saat ini, Tyo menjawab "seberapa besar kekurangannya, kita juga harus menilai dari diri kita sendiri, apa sih yang pernah kita berikan kepada Jakarta?". Dia juga memaklumi dan terbiasa dengan kondisi Jakarta saat ini, yaitu kepanasan dan kebanjiran yang terus terjadi di Jakarta. Ia memaklumi itu, yang ia inginkan hanya keamanan, damai, dan jauh dari penipuan. Karena temannya mengalami kejadian penipuan terhadap dagangannya, yaitu hipnotis yang membuat pedangan tidak sadar akan hal apapun yang menyebabkan hilangnya pendapatan yang sudah didapatkan sebelumnya pada hari itu. 

Keluarga yang jauh darinya juga sebenarnya membuat ia ingin meninggalkan Jakarta, namun keadaan ekonomi saat ini membuat Tyo harus tetap berjuang di Jakarta. Ketika ditanyakan mengenai apakah Tyo merekomendasikan Jakarta sebagai destinasi pengunjung/perantau, Tyo mengatakan bahwa tidak berani untuk melakukannya. Karena banyak godaan di Jakarta yang sebenarnya bisa membuat perantau tersebut bisa menyalahgunakannya.

Tyo juga mengatakan bahwa ia suka akan sejarah yang terjadi, ia mengatakan bahwa saat ini warga perlu diingatkan mengenai hal tersebut sebagai refreshing dari kejenuhan yang sudah di hadapi sehari-hari. Hal mengenai sejarah jika diangkat dengan menarik menurutnya sangat berpotensi untuk dinikmati juga oleh banyak pihak. Dari segi cerita sejarah juga menyadarkan dirinya bahwa yang baik pada akhirnya akan mengalami masa-masa kemenangan.